Analisis Monolog “Aku Si Kosong” Karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Ekspresif
Contributors
Ucu Handayani
Gita Auliya
Hellsa Siti Maryam
Verdiansyah Pratama Putra
R. Panca Pertiwi Hidayatin
Adi Rustandi
ISBN
2798-5709
Keywords
Proceeding
Track
General Track
License
Copyright (c) 2026 Proceedings UHAMKA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Abstract
Monolog “Aku Si Kosong” karya Chairil Anwar merupakan karya sastra yang menggambarkan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kesepian, rasa bersalah, dan kehilangan makna hidup. Melalui monolog ini, pengarang menyalurkan ekspresi terdalam dari penderitaan psikologis seorang tokoh yang merasa terasing dari dunia dan Tuhan akibat kesalahan masa lalunya. Tokoh “aku” tampil sebagai representasi manusia modern yang kehilangan orientasi moral dan spiritual, namun tetap berjuang mencari makna dan pengampunan. Rangkaian seruan emosional seperti “Maafan aku!”, “Tolong Tuhan!”, dan “Aku rindu!” menjadi wujud dari jeritan jiwa yang penuh penyesalan dan harapan untuk kembali mendapatkan kasih Ilahi. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekspresif yang berfokus pada hubungan antara karya sastra dan kondisi emosional pengarang. Melalui pendekatan ini, analisis diarahkan untuk menyingkap bagaimana perasaan, pengalaman batin, dan konflik psikologis Chairil Anwar termanifestasi melalui pilihan diksi, repetisi, dan gaya bahasa dramatik yang penuh intensitas emosional. Hasil analisis menunjukkan bahwa monolog ini berfungsi sebagai sarana katarsis bagi pengarang, yaitu pelepasan tekanan batin melalui ekspresi artistik. Selain itu, karya ini menegaskan bahwa sastra bukan sekadar bentuk estetika verbal, melainkan media refleksi spiritual dan moral yang mencerminkan kompleksitas jiwa manusia. Sehingga, monolog “Aku Si Kosong” tidak hanya menjadi monolog yang mengungkap penderitaan personal, tetapi juga simbol universal tentang kesalahan, penyesalan, kehilangan, dan harapan untuk menemukan kembali kedamaian jiwa melalui pertobatan dan kepasrahan kepada Tuhan.