Analisis Monolog “Aku Si Kosong” Karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Ekspresif


Date Published : 6 February 2026

Contributors

Ucu Handayani

Universitas Pasundan
Author

Gita Auliya

Universitas Pasundan
Author

Hellsa Siti Maryam

Universitas Pasundan
Author

Verdiansyah Pratama Putra

Universitas Pasundan
Author

R. Panca Pertiwi Hidayatin

Universitas Pasundan
Author

Adi Rustandi

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Author

ISBN

2798-5709

Keywords

Analisis Monolog Pendekatan ekspresif

Proceeding

Track

General Track

License

Copyright (c) 2026 Proceedings UHAMKA

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Abstract

Monolog “Aku Si Kosong” karya Chairil Anwar merupakan karya sastra yang menggambarkan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kesepian, rasa bersalah, dan kehilangan makna hidup. Melalui monolog ini, pengarang menyalurkan ekspresi terdalam dari penderitaan psikologis seorang tokoh yang merasa terasing dari dunia dan Tuhan akibat kesalahan masa lalunya. Tokoh “aku” tampil sebagai representasi manusia modern yang kehilangan orientasi moral dan spiritual, namun tetap berjuang mencari makna dan pengampunan. Rangkaian seruan emosional seperti “Maafan aku!”, “Tolong Tuhan!”, dan “Aku rindu!” menjadi wujud dari jeritan jiwa yang penuh penyesalan dan harapan untuk kembali mendapatkan kasih Ilahi. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekspresif yang berfokus pada hubungan antara karya sastra dan kondisi emosional pengarang. Melalui pendekatan ini, analisis diarahkan untuk menyingkap bagaimana perasaan, pengalaman batin, dan konflik psikologis Chairil Anwar termanifestasi melalui pilihan diksi, repetisi, dan gaya bahasa dramatik yang penuh intensitas emosional. Hasil analisis menunjukkan bahwa monolog ini berfungsi sebagai sarana katarsis bagi pengarang, yaitu pelepasan tekanan batin melalui ekspresi artistik. Selain itu, karya ini menegaskan bahwa sastra bukan sekadar bentuk estetika verbal, melainkan media refleksi spiritual dan moral yang mencerminkan kompleksitas jiwa manusia. Sehingga, monolog “Aku Si Kosong” tidak hanya menjadi monolog yang mengungkap penderitaan personal, tetapi juga simbol universal tentang kesalahan, penyesalan, kehilangan, dan harapan untuk menemukan kembali kedamaian jiwa melalui pertobatan dan kepasrahan kepada Tuhan.

References

No References

Downloads

How to Cite

Handayani, U., Auliya, G., Maryam, H. S., Putra, V. P., Hidayatin, R. P. P. ., & Rustandi, A. (2026). Analisis Monolog “Aku Si Kosong” Karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Ekspresif. Proceedings UHAMKA, 1(1), 40-46. https://conferences.uhamka.ac.id/uhamka/paper/view/28