HUBUNGAN KOMPETENSI TENAGA GIZI DENGAN IMPLEMENTASI EDUKASI GIZI BERBASIS DIABETES SELF-MANAGEMENT EDUCATION AND SUPPORT (DSMES)
Contributors
Artistika R Andaresti, Gunarti Yahya, Nursyifa R. Maulida
Keywords
Proceeding
Track
General Track
License
Copyright (c) 2025 Proceedings UHAMKA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Abstract
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan komprehensif melalui
pendekatan edukasi berkelanjutan. Diabetes Self-Management Education and Support (DSMES)
direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan pengelolaan
diabetes secara mandiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kompetensi tenaga gizi
dengan implementasi edukasi gizi berbasis DSMES. Penelitian menggunakan desain kuantitatif
observasional dengan pendekatan cross-sectional pada dietisien dan nutrisionis di Indonesia yang
pernah mengikuti pelatihan terkait diabetes. Pengumpulan data dilakukan secara daring
menggunakan Google Form pada April 2022 dengan teknik quota sampling. Instrumen penelitian
berupa kuesioner kompetensi tenaga gizi terkait DSMES dan implementasi edukasi DSMES,
kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa institusi
tempat kerja berhubungan signifikan dengan kompetensi tenaga gizi (p<0,05), sedangkan usia dan
tingkat pelatihan edukator diabetes berhubungan signifikan dengan implementasi DSMES
(p<0,05). Tingkat pendidikan dan pengalaman kerja tidak menunjukkan hubungan bermakna
terhadap kompetensi maupun implementasi DSMES (p>0,05). Selain itu, terdapat hubungan
signifikan antara kompetensi tenaga gizi dengan implementasi edukasi berbasis DSMES (p<0,05).
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi DSMES lebih dipengaruhi oleh
kompetensi profesional, pelatihan spesifik, dan dukungan institusi dibandingkan karakteristik
individu semata. Oleh karena itu, penguatan kompetensi tenaga gizi melalui pelatihan edukator
diabetes dan pengembangan profesional berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan edukasi diabetes di Indonesia.