STUDI KASUS: TERAPI MEDIK GIZI PADA PASIEN TUBERKULOSIS USUS DENGAN MALNUTRISI BERAT DAN KAHEKSIA YANG MENJALANI LAPAROTOMI DAN PEMBUATAN LOOP ILEOSTOMI
Contributors
Rozana Nurfitri Yulia, Mohamad Riza El Anshory
Keywords
Proceeding
Track
General Track
License
Copyright (c) 2025 Proceedings UHAMKA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Abstract
Tuberkulosis (TB) usus merupakan bentuk tuberkulosis ekstraparu yang jarang terjadi dan sering dikaitkan dengan malnutrisi berat serta kaheksia akibat gangguan penyerapan nutrisi, peradangan kronis, dan penurunan asupan makanan. Studi kasus ini menggambarkan seorang pasien perempuan berusia 31 tahun yang didiagnosis menderita tuberkulosis usus yang disertai malnutrisi berat dan kaheksia. Pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan nyeri perut yang semakin memburuk, mual, muntah, penurunan berat badan yang signifikan (31% dalam enam bulan), serta asupan nutrisi yang buruk. Pada awalnya, pasien diduga mengalami tumor intraabdomen sehingga dilakukan laparotomi eksploratif, adhesiolisis, dan loop ileostomi. Temuan pascaoperasi mengonfirmasi adanya tuberkulosis usus dengan adhesi pada ileum, omentum, dan sekum. Penatalaksanaan nutrisi dimulai dengan kombinasi nutrisi parenteral dan enteral, kemudian secara bertahap dialihkan ke pemberian makanan oral sesuai kondisi klinis dan toleransi pasien. Asupan nutrisi, keluaran ileostomi, dan parameter laboratorium dipantau secara berkelanjutan selama masa perawatan. Pasien menunjukkan perbaikan klinis yang progresif, peningkatan toleransi terhadap asupan nutrisi, keberhasilan transisi ke pemberian makanan oral, serta pemulihan pascaoperasi yang lebih baik. Dukungan nutrisi berkontribusi terhadap penyembuhan luka, stabilisasi status gizi, dan pemulihan secara keseluruhan. Pasien dipulangkan setelah 15 hari perawatan dengan terapi anti-tuberkulosis dan konseling gizi. Terapi gizi medis yang disesuaikan secara individual sangat penting bagi pasien tuberkulosis usus yang mengalami malnutrisi berat dan kaheksia serta menjalani pembedahan. Dukungan nutrisi perioperatif yang tepat, pemantauan berkelanjutan, dan edukasi gizi dapat meningkatkan proses pemulihan serta luaran klinis pasien.